Oleh Peribadi
Adalah cukup menyentak juga ketika virus need for Achievement yang dimaksudkan Mc Cleland untuk menyuntikkan dan sekaligus menularkan virus berprestasi dalam rangka membangkitkan kemandirian berwiraswasta. Namun yang terjadi kemudian, adalah bangkitnya gejolak hawa nafsu berbelanja di tengah hutan belantara konsumerisme dewasa ini. Hal ini berarti, upaya penularan memang tampak gemilang menjangkitkan virus keserakahan untuk mengundangkan investasi serta sukses menancapkan virus menghambur-hamburkan uang yang mungkin tidak jelas asal-usulnya itu.
Jika demikian, kita pun harus berupaya menjalarkan sebuah “virus” yang dapat mendobrak nafsu kebangkitan berprestasi serta nafsu mengembalikan semua uang misteri yang telah kita peroleh dengan strategi “KKN”. Seiring dengan itu, kita pun tengah membutuhkan resep pencekal nafsu perebutan status position yang tampak begitu ambisius untuk merenggut dan menduduki “kursi panas”. Karena faktor keambisian inilah yang menjadi penyebab malapetaka diri sendiri beserta seluruh anggota keluarga serta kerabat dan para koleganya.
Karena itu, marilah, di tengah kita memperingati “Hari Kebangkitan Nasional 2003 ini, kita mulai mengajak diri kita sendiri dan orang lain untuk bangkit mencerahkan masyarakat, bangsa dan negara tercinta ini. Bangkitlah bangsaku Indonesia, tanah airku Indonesia dan bahasaku Indonesia; Bangkitlah, sebagai bangsa Indonesia yang bersatu, sebagai tanah tumpah darah yang terbentang bagai permadani di zamrud katulistiwa, dan sebagai bahasa yang indah, halus dan sopan: Bangkitlah, untuk menggilas cemohan orang yang mengklaim Indonesiaku sebagai negara terjajah, tanah air yang terinjak dan sebagai bangsa yang diperbudak: Bangkitlah, sebagai manusia Indonesia yang ulet dan unggul; Bangkitlah, sebagai masyarakat yang beradab dan berpradaban;
Bangkit dan bangkitlah di kitaran alam yang penuh intan dan berlian dan pelbagai kekayaan alam lain yang terkandung di dalamnya; Marilah kita berpacu untuk mengentaskan semua kebangkrutan yang melingkari kehidupan manusia Indonesia dengan sebuah prestasi yang mampu menyelamatkan kepincangan negara kita ini. Dengan penuh harap, kiranya kita jangan hanya pandai bangkit untuk menjadi manusia yang hebat berbelanja, apalagi membelanjakan dan menghambur-hamburkan uang negara yang dipinjam dengan bunga setumpuk dan mencekik leher anak cucu kita kini dan akan mendatang.
Coba saja kita bayangkan, akibat dobrakan nafsu angkara murkah yang amat sulit terbendung itu, menyebabkan eksploitasi hutan belantara dan bahkan Prof. Soemitro sebagai seorang bengawan ekonomi mensinyalir sebanyak 30 persen biaya pengembangan hidup sejahtera manusia Indonesia diselewengkan.
Apa yang terjadi kemudian? Dalam artikel saya terdahulu disebutkan, hampir semua yang menjadi milik berharga dan dibanggakan, bahkan terkadang disombongkan, luluh, ludas dan pupus bersama keringnya air mata. Mulai dari kebangkrutan Rupe, deforestasi, abrasi, kesuburan tanah dan aneka ragam tambang dan batubara, sampai pada persoalan dehumanisasi, dekadensi, degradasi budaya serta kebangkrutan martabat, jati diri dan rasa malu. Lebih jauh dari itu kita juga tengah mengalami kebangrutan nasionalisme dan patriotisme.
Kalau kita tidak berani bangkit berprestasi untuk menyingkirkan keberanian kebangkitan menumpuk investasi yang entah “haram atau halal” serta berbelanja di sembarang tempat, maka mungkin tak ada lagi yang patut dibanggakan sebagai bangsa dan negara yang beradab dan kaya-raya.
Memang, kita tidak menghendaki proses revolusi kebangkitan yang spontanitas dengan segala resiko yang mungkin belum siap kita terima. Akan tetapi, kita harus melewati proses tahapan secara evolusioner sesuai dengan kondisi obyektif masyarakat kita. Hanya saja proses menuju sebuah kebangkitan, harus ditempuh melalui tahapan strategis dan sistemik. Artinya, ada ihwal kehidupan yang harus diskala-prioritaskan untuk digenjot dalam memasuki langkah perubahan selanjutnya. Jangan sampai mendahulukan sesuatu yang ngebor-gebyaran yang sesungguhnya tidak fundamentil.
Karena boleh jadi buat seseorang dianggap masalah, namun untuk banyak orang ternyata bukan persoalan. Sehingga, amat penting kita memiliki kepekaan dan kepedulian dengan semua orang yang hidup di sekitar kita. Kita bahkan harus mengembangkan sebuah program sesuai yang dikehendaki dan telah lama didamba-dambakan masyarakat setempat. Bukan sebaliknya, sebagaimana yang banyak terjadi selama kurun waktu gebyar modernisasi pembangunan nasional. Kita seringkali tidak hanya kurang proporsional dalam meletakkan sebuah proyek pembangunan, tetapi sekaligus kita kerapkali memotong dan menyelewengkan anggaran pembangunan itu.
Hampir semua kita mampu mengevalusi dan bahkan mungkin kita semua hampir cerdas mengomentarinya, betapa banyak kasus peletakan sebuah proyek di suatu tempat yang sesungguhnya tidak bermanfaat bagi masyarakat setempat, dan bahkan justru acapkali menyengsarakannya. Kemubaziran semacam ini, terjadi karena banyak hal yang bersinergi sebagai faktor sebab-musababnya yang menyelam di tengah lautan komoditi yang tidak berujung pangkal ini.
Kini, hampir semuanya kita dan terperangkap dan terkurung dalam perangkat keras dan halusnya komoditi di tengah ekstase masyarakat kontemporer. Coba saja dibayangkan, mulai dari rambut kaum Cucunda Hawa yang ikal, alis mata yang lentik, hidung yang mancung, bibir yang sungging, dada yang aduhai, pinggul yang montok, betis yang mulus dan sekujur tubuh yang semampai, semuanya dijadikan sebagai bahan komoditi kaum kapitalis yang serakah dan tak pernah puas mempertontonkan kemewahan.
Betapa tidak, ketika semua orang bangkit mengeliat untuk menikmati sarana dan prasarana manusia moderen, maka besar dugaan kita akan berani mencobanya dengan menggunakan pelbagai cara sekalipun. Karena disamping kita merasa malu diklaim sebagai orang miskin dan kampungan serta sedikit kaya, juga dorongan dari virus konsumeristis tersebut untuk bangkit segera memilikinya, seakan tak mampu kita membendungnya. Tak pelak lagi, kalau sang pendamping tercinta mengeluh karena melihat tetangga memilki segalanya, sekonyong-konyong menjadi virus keluarga yang lebih keras daya dobraknya untuk bangkit segera menghalalkan segala cara.
Karena itu, ada hal-hal penting yang terlebih dahulu harus disemarakkan, sebelum memulai penyuntikan virus berprestasi. Pertama, adalah sangat dibutuhkan keberanian mengakui perilaku menyimpang atas pengambilan dan pemilikan secara tidak sah terhadap perbendaharaan negara kita. Karena, kejujuran, kelapangan dada dan kejernihan hati merupakan langkah tepat yang amat mendesak untuk kita lakukan bersama, tanpa perlu lebih dahulu menyerukan kepada orang lain. Sadarkanlah diri kita semua, atas perilaku perampokan yang terbungkus dalam taktik Kolusi, kehalusan bahasa korupsi dan kecanggihan nepotisme. Bangkitlah segera untuk berani dan jujur mengaku semuanya. Pasti kemudian, orang lain akan mengakui dan mengagumi kejujuran itu, berikut memaafkannya.
Kedua, bangkitlah segera untuk mengembalikan uang negara yang telah cukup lama dimanfaatkan dan mungkin telah banyak difoya-foyakan. Ada banyak langkah yang bisa ditempuh sebagai kompensasi pengembalian uang negara dimaksud. Misalnya, memberi kontribusi material secara rutin kepada lembaga pengkaderan dan pencerah umat seperti KAMMI di kalangan elite pemuda dll, serta lembaga pengkajian sejenis LSM yang peduli terhadap orang yang dikorbankan tengkulak. Coba saja kita berjalan sembari mengintip pedagang kaki lima yang sekedar mencari sesuap nasi, ternyata banyak dipacundangi oleh kaum tengkulak kelas tengik.
Ketiga, kalau memang tidak merasa memiliki kemampuan untuk membangun dan mensejahterakan serta mencerahkan masyarakat, bangsa dan negara yang tengah membutuhkan keadilan dan kearifan dari seorang pemimpin yang dapat disuritauladani ini, seyogyanya tidak perlu mencalonkan diri atau segera mengundurkan diri saja. Akan tetapi, kalau memang percaya diri, kita harus bangkit memberikan sesuatu yang terbaik keharibaan ibu pertiwi ini. Jangan status position itu dijadikan sebagai arena komoditi yang dapat mempergunakan kesempatan dalam kesempitan. Sadarlah saudaraku sebangsa dan setanah air, keadaan seperti ini, tidak selamanya demikian. Pandai-pandailah membaca tanda-tanda zaman. Kini, tidak akan mungkin seterusnya begini dan begitu. Camkan, bahwa esok akan pasti terjadi perubahan dari yang jelek gelap-gulita ke yang baik terang-benderang. Habis gelap terbitlah terang –kata Ibunda Kartini. Akhirnya, orang yang seolah terpandang hari ini, boleh jadi esok jadi terhina dan demikian sebaliknya. Hanya Tuhanlah Yang Maha Tahu.
Penulis, Staf Pengajar Fisip dan Pemerhati Pemiskinan
No comments:
Post a Comment